Kepulauan Simeulue yang terletak di Samudra Hindia memiliki sejarah panjang tentang ketangguhan menghadapi bencana. Namun, kali ini semangat itu berbalik dalam bentuk kepedulian terhadap saudara mereka yang berada di daratan utama. Melalui gerakan Solidaritas Pulau Simeulue, para mahasiswa yang tergabung dalam BAPOMI menunjukkan bahwa jarak geografis dan lautan yang memisahkan bukan menjadi penghalang untuk saling membantu. Aksi ini menjadi bukti kuat bahwa rasa persaudaraan masyarakat Aceh sangat mengakar, di mana masyarakat pulau merasa terpanggil untuk membantu masyarakat di daratan yang sedang mengalami musibah.
Gerakan ini dimulai dari inisiatif mahasiswa asal Simeulue yang sedang menempuh pendidikan, baik di pulau maupun di luar pulau. Mereka menyadari bahwa saat terjadi bencana di daratan Aceh, dukungan dari segala arah sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses pemulihan. Para BAPOMI setempat segera mengorganisir penggalangan dana dan pengumpulan barang dari rumah ke rumah serta di pusat-pusat keramaian. Respons masyarakat Simeulue sangat luar biasa; meski mereka berada di daerah kepulauan, semangat berbagi mereka tetap berkobar demi meringankan beban warga yang terdampak bencana di daratan.
Tantangan terbesar dalam misi ini adalah proses transportasi. Mahasiswa harus memastikan bahwa mereka bisa kirim bantuan melewati jalur laut dengan aman dan efisien. Mengingat kondisi cuaca yang sering kali tidak menentu, koordinasi dengan pihak penyedia jasa transportasi laut menjadi sangat krusial. Mahasiswa bekerja keras membungkus bantuan dengan plastik kedap air untuk memastikan barang-barang tetap dalam kondisi baik saat tiba di pelabuhan tujuan. Ketangkasan fisik dan kemandirian mahasiswa Simeulue benar-benar teruji dalam mengawal logistik ini dari pelabuhan Sinabang hingga menyeberang ke daratan.
Prioritas utama dalam pengiriman ini adalah pemenuhan kebutuhan logistik dasar. Paket bantuan yang dikirimkan mencakup berbagai komoditas penting seperti beras, minyak goreng, gula, dan makanan instan. Selain itu, karena Simeulue merupakan daerah penghasil produk laut dan hasil bumi tertentu, beberapa bantuan juga disesuaikan dengan ketersediaan sumber daya lokal yang tahan lama untuk perjalanan jauh. Mahasiswa ingin memastikan bahwa bantuan yang dikirimkan memiliki nilai manfaat yang tinggi dan dapat segera dikonsumsi oleh para pengungsi atau warga yang rumahnya masih terisolasi.
Sesampainya di daratan Aceh, tim relawan mahasiswa langsung bergerak menuju titik-titik distribusi yang telah dikoordinasikan sebelumnya dengan posko induk. Kehadiran bantuan dari pulau ini disambut dengan rasa haru oleh warga di daratan. Hal ini menciptakan ikatan emosional yang sangat kuat antara masyarakat kepulauan dan daratan. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai kurir bantuan, tetapi juga sebagai duta persaudaraan yang membawa pesan bahwa “kita satu Aceh dan kita tidak akan membiarkan saudara kita berjuang sendirian.”
