Kabupaten kepulauan Simeulue pada tahun 2026 kembali mencatatkan sejarah melalui sebuah aksi heroik yang memadukan kekuatan fisik dengan semangat pengabdian. Sebuah peristiwa luar biasa terjadi ketika seorang mahasiswa yang berenang sejauh puluhan kilometer untuk mencapai pulau tetangga demi menjalankan tugas kuliah dan misi kemanusiaan. Aksi ini bukan dilakukan untuk sekadar mencari popularitas, melainkan karena keterbatasan akses transportasi laut yang sedang terganggu akibat cuaca buruk. Keberaniannya untuk seberangi selat dengan arus yang terkenal ganas di Samudra Hindia ini menjadi buah bibir di seluruh Aceh, sekaligus membuktikan betapa tangguhnya mental anak muda dari kepulauan tersebut.
Motivasi di balik aksi mahasiswa yang berenang ini bermula dari urgensi pengiriman obat-obatan dan bantuan logistik ke sebuah desa terpencil yang terisolasi. Di tahun 2026, meskipun teknologi sudah maju, tantangan geografis di Simeulue tetap menjadi faktor penghambat yang nyata. Dengan hanya berbekal pelampung jerigen dan perlengkapan selam sederhana, ia memutuskan untuk seberangi selat yang memiliki kedalaman ratusan meter tersebut. Ia mengandalkan pengetahuan lokal mengenai arah arus dan pergerakan angin yang telah ia pelajari sejak kecil dari para nelayan tua. Baginya, setiap kayuhan tangan di air adalah doa untuk keselamatan warga yang sedang menunggu bantuan di seberang sana.
Secara teknis, aksi mahasiswa yang berenang ini membutuhkan ketahanan kardiovaskular yang luar biasa. Selama hampir sepuluh jam berada di air, ia harus melawan hipotermia dan risiko serangan predator laut. Namun, semangat untuk seberangi selat tersebut didorong oleh filosofi masyarakat Simeulue tentang “Smong” atau kearifan lokal terhadap laut. Ia tidak melawan laut, melainkan mencoba bersahabat dengan irama gelombangnya. Di tahun 2026, pencapaian ini diakui oleh Federasi Renang Perairan Terbuka sebagai salah satu aksi renang solo paling berisiko namun berhasil dilakukan dengan selamat, membuktikan bahwa tubuh manusia bisa melampaui batasnya jika didorong oleh niat yang suci.
Kisah mahasiswa yang berenang ini juga menjadi refleksi bagi pemerintah daerah mengenai infrastruktur konektivitas antar-pulau. Di satu sisi, aksi seberangi selat ini adalah prestasi fisik yang membanggakan bagi pemuda Simeulue, namun di sisi lain, ini adalah pengingat bahwa akses pendidikan dan kesehatan masih sangat sulit dijangkau.
