Penyebaran nilai-nilai luhur dalam olahraga menjadi pondasi penting bagi pembentukan karakter generasi muda di wilayah kepulauan. Melalui kegiatan Sosialisasi Olympism yang diselenggarakan oleh Bapomi Simeulue, para peserta diajak untuk memahami bahwa esensi kompetisi bukan sekadar tentang kemenangan, tetapi juga tentang persahabatan dan rasa hormat. Di sela-sela pemaparan materi, para atlet juga diperkenalkan pada manfaat latihan fisik outdoor yang memanfaatkan keindahan alam sekitar guna meningkatkan ketenangan mental dan fokus saat bertanding. Upaya untuk tanamkan jiwa sportif ini diharapkan mampu membentuk standar etika yang tinggi bagi seluruh mahasiswa pulau yang aktif dalam berbagai cabang olahraga di tingkat universitas.
Olympism sendiri merupakan filosofi hidup yang mengagungkan keseimbangan antara kualitas tubuh, kemauan, dan pikiran. Bapomi Simeulue memandang bahwa mahasiswa di wilayah pulau memiliki potensi fisik yang tangguh karena keterbiasaan hidup di alam yang menantang. Namun, kekuatan fisik tersebut harus dibarengi dengan pemahaman nilai sportivitas agar tidak terjadi gesekan yang tidak perlu saat tensi pertandingan meningkat. Dalam sosialisasi ini, ditekankan bahwa menghargai lawan adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri sebagai seorang olahragawan sejati. Etika bertanding inilah yang akan menjadi pembeda bagi atlet Simeulue ketika mereka berlaga di luar daerah kelak.
Nilai-nilai kejujuran dan disiplin menjadi poin utama yang dibahas dalam forum tersebut. Mahasiswa diberikan pemahaman bahwa kemenangan yang diraih dengan cara yang tidak jujur tidak akan memberikan kepuasan batin yang abadi. Sebagai atlet mahasiswa, mereka memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik almamater dan daerah. Jiwa sportif harus tercermin tidak hanya di dalam lapangan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota masyarakat. Bapomi Simeulue berkomitmen menciptakan ekosistem olahraga yang sehat di mana setiap individu merasa dihargai tanpa memandang latar belakang universitas asal mereka.
Tantangan geografis sebagai wilayah kepulauan tidak menjadi penghalang bagi Bapomi Simeulue untuk terus berinovasi dalam memberikan edukasi. Sosialisasi ini juga mencakup diskusi mengenai sejarah olimpiade dan bagaimana para atlet dunia menjaga konsistensi mereka melalui dedikasi yang tanpa henti. Mahasiswa diajak untuk bermimpi besar, menembus batas-batas samudera yang mengelilingi tempat tinggal mereka. Dengan memegang teguh prinsip Olympism, diharapkan muncul motivasi internal yang kuat untuk terus berlatih meskipun fasilitas di pulau mungkin tidak selengkap di kota-kota besar. Keterbatasan justru harus dijadikan cambuk untuk membuktikan bahwa kualitas mental tidak ditentukan oleh lokasi geografis.
Selain diskusi teori, kegiatan ini juga melibatkan simulasi pengambilan keputusan dalam situasi sulit saat pertandingan. Atlet diajarkan cara mengendalikan emosi ketika menghadapi keputusan wasit yang mungkin dirasa kurang adil atau saat mendapatkan provokasi dari pihak luar. Pengendalian diri adalah bagian dari jiwa sportif yang sangat krusial dalam olahraga modern. Seorang atlet yang cerdas adalah mereka yang mampu tetap tenang dan fokus pada strategi permainan tanpa terganggu oleh faktor eksternal. Kemampuan inilah yang ingin ditonjolkan oleh Bapomi Simeulue agar para mahasiswa pulau siap bersaing secara elegan di kancah nasional.
