Menjalankan ibadah puasa sambil tetap mempertahankan performa atletik tingkat tinggi merupakan tantangan fisik yang signifikan, terutama bagi para pejuang olahraga di bawah naungan BAPOMI Simeulue. Salah satu kekhawatiran terbesar bagi seorang olahragawan selama periode puasa belasan jam adalah terjadinya katabolisme, atau kondisi di mana tubuh mulai memecah jaringan otot untuk mendapatkan energi dan asam amino. Untuk mengantisipasi hal ini, pemahaman mengenai jenis protein yang dikonsumsi menjadi sangat krusial. Strategi nutrisi yang paling efektif adalah dengan memasukkan asupan casein saat sahur sebagai benteng pertahanan otot yang utama.
Berbeda dengan protein whey yang diserap sangat cepat oleh tubuh, casein memiliki karakteristik unik sebagai protein “lambat serap”. Ketika dikonsumsi, protein ini akan membentuk konsistensi seperti gel di dalam lambung, yang kemudian dicerna dan dilepaskan ke dalam aliran darah secara bertahap selama 6 hingga 8 jam. Bagi seorang atlet, mekanisme pelepasan lambat ini sangatlah berharga. Selama jam-jam kritis di siang hari saat tidak ada asupan makanan yang masuk, aliran asam amino yang stabil dari sisa pencernaan sahur akan terus menutrisi sel-sel otot, sehingga proses pemulihan tetap berjalan meskipun tubuh sedang dalam keadaan berpuasa.
Di wilayah kepulauan seperti Simeulue, sumber protein alami yang mengandung kasein tinggi sebenarnya sangat mudah diakses, terutama melalui produk olahan susu seperti keju, yogurt, atau susu murni. Mengonsumsi sumber protein ini di akhir waktu sahur adalah sebuah rahasia untuk menjaga keseimbangan nitrogen dalam tubuh. Selain menjaga massa otot agar tidak menyusut, protein jenis ini juga memberikan efek kenyang yang lebih lama (satiety). Rasa kenyang yang stabil sangat membantu fokus mental atlet saat harus tetap menjalani aktivitas fisik atau latihan ringan di sore hari tanpa merasa sangat lapar atau lemas secara berlebihan.
Implementasi pola makan ini harus dilakukan dengan presisi agar tidak membebani pencernaan. Idealnya, atlet mengonsumsi makanan padat terlebih dahulu, baru kemudian menutupnya dengan sumber protein lambat serap ini. Selain membantu aspek fisik, asupan protein yang cukup juga mendukung sistem kekebalan tubuh. Kita tahu bahwa latihan intensitas tinggi dapat menekan sistem imun, dan kekurangan protein hanya akan memperburuk kondisi tersebut. Dengan cadangan asam amino yang tersedia sepanjang hari, tubuh memiliki “bahan baku” yang cukup untuk memperbaiki kerusakan jaringan mikro yang terjadi selama aktivitas harian.
